DAFTAR ISI

Memuat...
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

Kisah Petani Jagung Yang Baik


Di sebuah pedesaan, tempat di mana tanah yang sangat subur dapat menumbuhkan tunas-tunas jagung, ada seorang petani yang berhasil memenangkan kontes pertanian selama bertahun-tahun. Hal ini menarik perhatian seorang wartawan, karena di desa itu ada puluhan petani yang juga memiliki kebun jagung.
Untuk mengungkap rahasia kemenangan selama bertahun-tahun itu, sang wartawan mengunjungi sang petani untuk wawancara singkat.
“Apakah Anda memiliki rahasia khusus untuk memenangkan kontes hasil panen jagung terbaik setiap tahun?” tanya sang wartawan.
Petani yang tampak bersahaja itu tersenyum lalu menjawab, “Saya tidak punya rahasia khusus, karena bibit jagung milik saya yang memenangkan kontes, pada akhirnya selalu saya bagi-bagikan pada petani lain, karena itu adalah bibit jagung terbaik.”
Sang wartawan tampak bingung, berarti semua petani memiliki bibit jagung yang sama-sama baik. “Mengapa Anda membagikan bibit jagung terbaik? Bukankah semua petani di desa ini mengikuti kontes yang sama, Anda tak takut kalah?”
Sang petani terkekeh pelan, “Aku sama sekali tidak memikirkan menang ataupun kalah, anak muda. Kau harus tahu bahwa angin dapat menerbangkan serbuk sari bunga-bunga jagung dan terbang dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila ada serbuk sari tanaman jagung dengan bibit yang buruk terbang ke ladang jagungku, itu akan menurunkan kualitas jagung saya dan juga seluruh hasil jagung penduduk desa ini. Saya ingin mendapat hasil jagung terbaik, karena itulah saya menolong tetangga saya untuk mendapat bibit jagung yang baik pula.”
Itulah gambaran seorang petani jagung yang bijak dan dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita ingin mencapai keberhasilan dalam hidup, maka menolong orang-orang yang dekat dengan kita menjadi awal langkah sukses.

Menaklukkan Mata Buta Dengan Melukis


Pengalaman pahit dapat menghasilkan dua keadaan, yaitu: keadaan menjadi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk. Oleh karena pilihan ada ditangan kita, pilihan manakah yang kita pilih? Keadaan akan menjadi lebih baik ketika kita mulai melakukan introspeksi diri dan menginventarisir kekuatan, kecendrungan alami, dan kemungkinan eksplorasi potensi diri. Sebaliknya, keadaan akan menjadi lebih buruk ketika kita memilih menyalahkan keadaan, orang lain atau siapapun yang dapat disalahkan.
Ketra Oberlander harus menelan pil pahit di dalam hidupnya. Ketika kariernya sebagai penulis di industri dot com Silicon Valley harus berakhir, pada saat yang bersamaan Ketra juga mengalami kerusakan mata parah.
Pada usia 4o tahun, Ketra menerima kenyataan bahwa ia buta dan tidak punya pekerjaan. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi semua kesulitan ini?
Hidup bergantung kepada suami bukanlah pilihan yang bijak, dan hal itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Bagaimanapun juga ia merasa harus melakukan sesuatu untuk mengatasi keadaan ini. Lalu apa yang harus dilakukan?
Ketra Oberlander yakin bahwa pasti ada solusi terbaik yang dapat menjadi jalan keluar bagi dirinya. Dan setelah melalui perenungan yang dalam, ia memutuskan untuk terus berjuang melakukan sesuatu yang berarti.
Solusi atas masalah mulai hadir ketika Ketra meminta suaminya untuk memotret close-up bunga di halaman rumahnya. Hasil foto ini lalu dimasukkan ke dalam komputer untuk dijadikan model lukisan bagi Ketra Oberlander.
Lalu, Ketra memperbesar gambar bunga sampai penuh di layar komputer dan menampilkan warna kontras yang maksimal. Hal ini harus dilakukan Ketra, karena matanya yang rusak hanya dapat melihat pada jarak 10 centimeter dari obejek.
Kemudian, dengan mendekatkan wajahnya ke layar komputer, Ketra mulai meniru model bunga ke dalam kain kanvas. Setiap kali melukis, ia harus bolak-balik mendekatkan wajahnya ke layar dan ke kain kanvas. Hanya dengan cara inilah ia dapat melukis sesuai objek yang dilihatnya.
Perjuangan yang melelahkan dan penuh dengan pengorbanan ini ternyata membawa hasil yang luar biasa. Lukisan bunga Ketra disukai dan dinilai bagus oleh teman-temannya.
Untuk lebih meyakinkan diri, bahwa lukisannya memang bagus dan mendapat respon positif, Ketra lalu menitipkan lukisannya pada sebuha pameran seni. Luar biasa! Bukan hanya dikagumi oleh banyak orang, malah lukisan Ketra mendapat penghargaan.
Penghargaan yang diterimanya, menguatkan hati Ketra untuk menekuni profesi baru, yaitu menjadi seorang pelukis. Sebuah keputusan yang benar yang akhirnya membawa dirinya mendapat penghargaan demi penghargaan.
Kini, Ketra Oberlander diusia 47 tahun, bukan hanya sekedar seorang pelukis handal, dia juga adalah konsultan seni dan pengusaha seni yang terkenal. Sungguh, Ketra telah berhasil menjadikan kepahitan menjadi kebaikan.
Menyerah terhadap keadaan bukanlah pilihan yang baik. Justru berusaha keras mengatasi keadaan pahitlah pilihan yang paling realistis. Walau tantangan tidak mudah dilalui, tapi kesuksesan hanya bagi orang yang berani menghadapi kesulitan dengan keterbatasan yang ada.
Bagaimana dengan kesulitan yang kita hadapi. Apakah kita sudah mengatasinya dengan gagah berani sehingga menghasilkan keadaan yang lebih baik? Mari kita melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Disini, saat ini, sekarang juga.

Kisah Tukang Kayu


Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun.
Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.
Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.
Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.
Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati.
Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, “Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada.”
Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.
Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.
Inilah refleksi hidup kita! Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.
Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu. Masa depanmu adalah hasil dari keputusanmu saat ini

Ketulusan Hati Seorang Tukang Bangunan



Saat seseorang mendapat pekerjaan sulit, dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya. Tetapi saat mendapat pekerjaan mudah, seseorang cenderung menyepelekannya.
Ada dua orang pemuda yang mendapat pekerjaan sebagai tukang bangunan. Proyek yang harus mereka jalankan adalah membangun sebuah rumah milik saudagar kaya. Pemuda pertama, yang bertubuh besar mendapat tugas membuat pintu dan kayu. Sedangkan pemuda kedua yang bertubuh kecil mendapat tugas mengaduk semen dan menyusun batu bata.
Pemuda pertama senang karena menganggap pekerjaannya sangat mudah dan tidak perlu banyak tenaga, pemuda kedua tidak banyak mengeluh karena dia berpikir akan memberikan yang terbaik.
Saat tiba di lokasi pembangunan, sang pemuda pertama sangat terkejut karena rumah yang dibangun ternyata rumah model kuno, memerlukan pintu dan jendela yang penuh ukiran. Sang mandor langsung mengajarkan cara mengukir pada pemuda pertama. Meskipun telah diajarkan berkali-kali, sang pemuda pertama tidak bisa mengukir dengan baik, karena sejak awal dia berpikir bahwa pekerjaannya mudah sehingga menyepelekan.
Berbeda dengan pemuda kedua, dia bisa mengaduk semen dan menyusun bata dengan baik walaupun hanya diajarkan sesekali.
Timbul niat untuk bertukar posisi. Pemuda pertama menawarkan diri untuk menggantikan si pemuda kedua, merekapun bertukar pekerjaan.
Saat sore tiba, sang mandor kembali ke rumah yang dibangun. Dia terpesona dengan satu pintu yang memiliki ukiran halus dan indah. “Siapa yang membuat ukiran ini?” tanya sang mandor. Pegawai yang lain langsung menunjuk ke arah pemuda dua.
Sang mandor langsung menghampirinya lalu bertanya bagaimana si pemuda yang tidak memiliki latar belakang mengukir bisa menghasilkan ukiran pintu yang indah.
“Bagi saya, sederhana saja pak,” ujarnya dengan wajah yang rendah hati. “Lakukan semuanya dengan tulus dan jangan pernah meremehkan apapun. Dengan begitu, saya lebih mengerti saat diajarkan dan bersungguh-sungguh mengerjakannya,” lanjut sang pemuda. “Jika kita bekerja dengan kesungguhan hati, maka hasilnya akan luar biasa,”
Hal yang paling menakutkan bukanlah mendapat pekerjaan yang sulit, tetapi mendapat pekerjaan yang mudah. Karena saat mendapatkan pekerjaan yang mudah, kita cenderung meremehkannya.
Satu pelajaran hebat dari seorang tukang bangunan. Semoga kisah ini  bisa menjadi inspirasi kita semua.